|
|||||
| |
|||||
Menyusul bangkrutnya beberapa perusahaan besar dunia pada tahun 2002, dalam tahun 2003 terjadi peningkatan minat investasi asing ke bursa saham. Hal ini didorong oleh kenaikan laba perusahaan di dunia, perbaikan neraca perusahaan dan yang lebih penting lagi adalah perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tidak diduga sebelumnya. Bursa saham di Eropa dan Jepang juga mengalami peningkatan, meskipun kinerja perekonomian negara-negara di wilayah tersebut tidak sebaik negara lain di dunia. Peningkatan arus investasi juga terjadi dalam bursa saham negara-negara berkembang, kurang lebih setengah kali lipat dalam denominasi dolar Amerika, menyusul pertumbuhan dan outlook perekonomian yang positif. Peningkatan nilai mata uang lokal dan penurunan tingkat suku bunga maupun inflasi telah mendorong tingkat konsumsi masyarakat. Bursa saham di negara-negara Asia Tenggara menarik minat investor asing karena indeks saham masih berada dalam tingkat sebelum krisis maupun tingkat valuasi yang masih rendah. Minat investasi asing yang besar terlihat di Cina dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 9,1% pada tahun 2003. Cina dianggap sebagai lokomotif pertumbuhan pasar di kawasan Asia maupun sebagai sumber investasi.
Bursa Efek Jakarta (BEJ) berkinerja sangat baik pada tahun 2003, tercatat sebagai Bursa Saham berkinerja terbaik kedua di Asia dengan peningkatan sebesar 69% dibandingkan dengan 11% pada tahun 2002. Kenaikan ini disebabkan oleh rendahnya harga saham, outlook positif ekonomi Indonesia yang tumbuh 4% setelah beberapa tahun mengalami krisis, serta nilai Rupiah yang stabil dan cenderung menguat. Faktor lain yang mendukung bergairahnya pasar modal di Indonesia adalah rendahnya tingkat suku bunga dan inflasi maupun iklim sosial politik yang membaik. Tahun 2003 juga merupakan periode yang baik bagi perusahaan pertambangan dunia. Kenaikan harga komoditas telah meningkatkan minat investor dalam perusahaan tambang. Harga jual komoditas utama perusahaan, emas dan nikel, keduanya mengalami peningkatan yang signifikan dengan harga jual nikel mencapai level tertinggi selama 14 tahun terakhir akibat kenaikan permintaan dari Cina. Sementara peningkatan harga emas disebabkan kondisi geopolitik yang kurang kondusif serta depresiasi dolar Amerika.
Outlook investasi saham di Asia Tenggara tampak cukup positif menyusul peningkatan jumlah simpanan oleh masyarakat sejak krisis. Akibat rendahnya tingkat suku bunga, kemungkinan besar masyarakat di Asia akan kembali berinvestasi atau meningkatkan level konsumsinya. Minat investasi asing di Asia juga akan meningkat seiring dengan masih labilnya perbaikan ekonomi AS yang disebabkan defisit anggaran, tingginya tingkat ketergantungan ekonomi AS pada konsumsi masyarakat, penurunan jumlah simpanan masyarakat, serta banyaknya perusahaan AS yang memiliki jumlah hutang yang besar. Faktor-faktor ini akan menyebabkan investor asing berpaling ke pasar modal Asia, yang memiliki valuasi yang baik ataupun untuk melindungi nilai investasi di AS.
|
|||||
PT ANTAM Tbk Gedung Aneka Tambang Jl. Letjen T.B. Simatupang No. 1 Lingkar Selatan, Tanjung Barat Jakarta 12530 - Indonesia Phone : (62 - 21) 789-1234, (62 - 21) 781-2635, Fax : (62 - 21) 789-1224 email: corsec@antam.com - www.antam.com |
|||||