• Berhasil memenuhi jadwal kerja yang ketat dalam overhaul pabrik FeNi II dan konstruksi pabrik FeNi III serta pembangkit listrik terkait.
  • Kenaikan harga komoditas menyebabkan pertumbuhan pendapatan yang solid dengan pendapatan naik 34% menjadi Rp2,9 triliun dan laba bersih melonjak signifikan sebesar 256% menjadi Rp807 miliar.
  • Kenaikan harga komoditas melampaui penurunan produksi dengan marjin operasi naik menjadi 38% dari 21%.
  • Arus kas bersih dari aktivitas operasi naik 60% menjadi Rp768 miliar sehingga kebutuhan dana pinjaman untuk proyek FeNi III lebih sedikit dari yang direncanakan dan menjadikan likuiditas Antam tetap kuat.
  • Dengan mengecualikan kebutuhan kas untuk proyek FeNi III yang sudah tercukupi, kas dari operasi Antam lebih dari cukup untuk mendanai pengeluaran rutin perusahaan, memenuhi pembayaran kewajiban dan memberikan dividen.
  • Direksi membagikan dividen interim sebesar Rp19,60 per saham. Total imbal hasil kas yang diberikan ke pemegang saham, termasuk dividen 32,5% dari laba bersih tahun 2003 atau Rp38,60 per saham, mencapai Rp111 miliar (US$12 juta).
  • Imbal hasil ke pemegang saham yang diukur dari imbal hasil rata-rata ekuitas, naik dari 13% menjadi 38%. Efisiensi operasi yang diukur dari imbal hasil rata-rata aktiva naik dua kali lipat dari 7% menjadi 16%.
  • Kenaikan biaya per unit untuk memproduksi nikel dan emas masih berada di bawah rata-rata kenaikan industri.
  • Untuk memastikan pertumbuhan jangka menengah hingga jangka panjang, Antam melakukan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan Jepang, Korea dan Australia untuk mengembangkan pabrik feronikel keempat, FeNi IV, dan proyek hidrometalurgi.
  • Antam menandatangani nota kesepahaman untuk secara bersama-sama mengembangkan ladang gas di Sulawesi Utara. Hal ini merupakan upaya Antam untuk mencari sumber energi yang lebih murah seiring dengan penghapusan subsidi bahan
    bakar minyak.

Sebelum Berikut