|


Bagian Pertama - Sub Bagian Satu

 |
 |
Laporan dibawah ini ditulis oleh Chris Cockerill, editor dari Asiamoney yang sebelumnya merupakan editor Asia untuk publikasi dari grup perusahaan yang sama, Euromoney. Kami mengeluarkan laporan ini dalam format original untuk menyampaikan perspektif manajemen atas kinerja dan outlook Antam, tanpa harus menghilangkan pandangan obyektif seorang jurnalis finansial yang terkemuka. |
BAGIAN PERTAMA:
Tata Kelola Perusahaan dan transparansi merupakan dua hal yang jarang diasosiasikan dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia oleh para investor. Namun, perusahaanperusahaan di Indonesia ada yang berusaha untuk mengubah cara pandang tersebut, seiring dengan keinginan mereka untuk menarik minat pihak asing untuk berinvestasi di perusahaan masing-masing. Editor dari Asiamoney, Chris Cockerill, berkesempatan untuk menemui Antam, perusahaan pertambangan di Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan dengan komitmen tersebut, untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya rencana perusahaan untuk membedakan dirinya di dalam lingkungan usaha yang dikelilingi oleh tindakan korupsi.
Pada akhir bulan Maret Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan tekadnya untuk mengubah citra buruk Indonesia dengan menyempurnakan kerangka hukum, memerangi korupsi dan memastikan transparansi. Menanggapi pernyataan tersebut, para pengamat hanya dapat menghela napas dan mengatakan bahwa mereka sudah pernah mendengar hal itu sebelumnya. Hal tersebut merupakan reaksi yang wajar, mengingat sudah beberapa kali upaya tersebut dicoba. Sikap skeptis semakin bertambah saat media internasional memberitakan bahwa Presiden Yudhoyono akan berupaya menarik investasi asing di Indonesia sebesar beberapa miliar dolar. Skeptisme yang ada menunjukkan betapa besar tugas yang menghadangnya.
Pemerintah pun tidak bisa lagi berpuas diri atau berilusi; negara ini telah tercoreng. Dua kata, yakni “Indonesia” dan“transparansi”, tidak lagi sejalan dan jarang sekali diutarakan oleh kalangan usaha dalam negeri, apalagi dari luar negeri. Problem reputasi Indonesia inilah yang mempengaruhi iklim investasi usaha secara keseluruhan. Hal ini seringkali menyulitkan investor asing untuk mengetahui usaha apa saja yang terkena imbas korupsi dan mana yang tidak, sementara di lain pihak jumlah dana dan investasi yang dimiliki dapat mengubah dan menuntun negeri ini kembali ke jalur pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Ini berarti perusahaan-perusahaan yang mencoba melakukan praktek bisnis yang baik tidak lagi memperoleh dampak negatif dari keengganan investor untuk menanamkan modalnya karena persepsi yang salah atas reputasi melakukan bisnis di Indonesia.
|