| 
Tinjauan Keuangan - Aktiva
Tinjauan Keuangan
Aktiva
Total Aktiva
Per tanggal 31 Desember 2004, total aktiva Antam berjumlah Rp6,04 triliun (US$650 juta), naik 40% atau Rp1,72 triliun (US$185 juta) dibandingkan 2003. Kenaikan ini disebabkan peningkatan aktiva tetap menyusul kelanjutan pembangunan pabrik FeNi III dan pembangkit listrik yang baru, serta kenaikan harga komoditas.
Aktiva Lancar
Aktiva lancar Antam naik 17% menjadi Rp2,99 triliun (US$322 juta) karena peningkatan piutang usaha, persediaan, serta pajak dibayar di muka. Komponen pajak dibayar di muka naik 233% menjadi Rp183 miliar seiring dengan peningkatan pajak pertambahan nilai. Sementara itu nilai biaya dibayar di muka naik 152% menjadi Rp68 miliar.
Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas Antam naik 4% menjadi Rp2 triliun (US$215 juta) dibandingkan tahun 2003. Porsi kas dan setara kas adalah 33% dari total aktiva Antam. Sumber kas utama berasal dari operasi perusahaan serta adanya pinjaman jangka panjang. Peningkatan kas dan setara kas Antam disebabkan peningkatan harga komoditas yang jumlahnya melebihi belanja modal untuk keperluan overhaul pabrik FeNi II serta konstruksi proyek FeNi III. Sebanyak 96% kas Antam berdenominasi dolar Amerika, sehingga meski jumlah kas berkurang Rp109 miliar, akibat penguatan dolar Amerika nilai kas dan setara kas dalam mata uang Rupiah tercatat lebih besar.
Porsi terbesar kas Antam yakni sebesar US$105 juta atau Rp976 miliar disimpan dalam deposito berjangka dengan ABN AMRO Singapura yang diperpanjang setiap minggu dan memiliki tingkat suku bunga 0,935% sampai 1,5%. Deposito berjangka ini berasal dari penerbitan eurobond anak perusahaan Antam, Antam Finance Limited (AFL) dan digunakan untuk mendukung letter of credit bagi Mitsui dan Kawasaki dalam konstruksi proyek FeNi III. Tingkat suku bunga deposito dolar Amerika turun menjadi kisaran 0,61% dan 1,50%, sementara suku bunga deposito rupiah turun menjadi kisaran 5,0% dan 7,24%. Antam tidak memiliki investasi jangka pendek pada tahun 2004.
Piutang Usaha
Jika pada tahun 2003 nilai piutang usaha Antam turun, pada tahun 2004 piutang usaha naik 115% menjadi Rp282 miliar atau 10% dari total pendapatan, seiring dengan peningkatan harga jual nikel. Piutang usaha Antam tidak diperkirakan akan menjadi masalah dalam penagihan. Seperti tahun 2003, sebagian besar piutang usaha berdenominasi dalam dolar Amerika untuk komoditas nikel.
Persediaan
Nilai persediaan Antam naik 19% menjadi Rp396 miliar. Nilai persediaan bijih nikel dan feronikel masing-masing naik menjadi Rp134 miliar dan Rp59 miliar, sementara nilai persediaan emas dan perak naik menjadi Rp46 miliar. Seiring dengan peningkatan nilai pendapatan, inventory turnover Antam naik menjadi 7,2 kali dari 6,4 kali, lebih tinggi dari standar perusahaan selama dua sampai dengan tiga bulan persediaan di gudang.
Aktiva Tidak Lancar
Serupa dengan tahun 2003, nilai aktiva tetap Antam pada tahun 2004 juga meningkat. Aktiva tetap naik 77% menjadi Rp2,69 triliun (US$290 juta) sehingga aktiva tidak lancar naik 71,5% menjadi Rp3,05 triliun (US$328 juta). Peningkatan aktiva tetap disebabkan adanya penambahan peralatan dan fasilitas pabrik senilai Rp1,30 triliun karena telah berjalannya konstruksi pabrik FeNi III dan PLTD-3, serta overhaul pabrik FeNi II. Nilai aktiva tetap juga mencakup bunga yang dikapitalisasi untuk proyek FeNi III sebesar Rp139 miliar. Nilai aktiva dalam penyelesaian naik menjadi Rp1,86 triliun (US$200 juta).
Menyusul pengeluaran eksplorasi di Tayan serta pengembangan wilayah Buli, biaya eksplorasi dan pengembangan tangguhan naik 35% menjadi Rp196 miliar. Biaya ini merupakan komponen terbesar kedua aktiva tidak lancar perusahaan.
|