|
|

Perekonomian Indonesia sepanjang tahun 2004 menunjukkan
perkembangan yang menggembirakan, di mana pertumbuhan
ekonomi mencapai 5% lebih tinggi dari tahun 2003 yang hanya
mencapai 3%. Keberhasilan penyelenggaraan pemilihan umum
yang berlangsung dengan aman telah meningkatkan kepercayaan
pemodal kepada pemerintah dalam menangani kestabilan politik
dan keamanan dalam negeri. Seiring dengan membaiknya
perekonomian Indonesia, lembaga pemeringkat internasional
Standard & Poor’s (S&P) pada tahun 2004 telah meningkatkan
peringkat hutang luar negeri jangka panjang Indonesia dari
B menjadi B+. Keadaan perekonomian Indonesia yang terus
menunjukkan perbaikan mempunyai dampak baik secara
langsung maupun tidak langsung terhadap minat investor untuk
berinvestasi di pasar modal Indonesia.
Dalam tahun 2004 IHSG mencapai titik tertinggi sepanjang
sejaran bursa efek yakni pada level 1004,43. Keadaan ini kembali
menjadikan Bursa Efek Jakarta sebagai salah satu pasar modal
dengan kinerja terbaik di Asia, di mana IHSG tercatat memberikan
keuntungan sebesar 44,6% dalam Rupiah dan 37,5% dalam
mata uang Dolar Amerika Serikat. Masuknya aliran dana dari
investor asing dapat dilihat dari semakin aktifnya investor asing
bertransaksi di BEJ yang mencapai 41% dari total perdagangan
saham, naik dari 28% tahun sebelumnya. Dari segi kapitalisasi
pasar BEJ menunjukan kenaikan yang cukup tinggi yaitu 48%.
Morgan Stanley memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia
dalam tahun 2005 masih akan tumbuh sebesar 4,5%, sedangkan
pemerintah Indonesia mentargetkan pertumbuhan sebesar
5,5% dengan meningkatkan peran investasi sebagai motor
pertumbuhan.
|
|