PT Antam (Persero) Tbk

Antam Menerbitkan Obligasi Berdenominasi Rupiah Untuk Pendanaan Investasi Dan Pengembangan Usaha
Home arrow Rilis, Laporan dan Presentasi arrow Rilis Media

Jakarta, 10 November 2011 – PT ANTAM (Persero) Tbk (Antam; ASX - ATM; IDX - ANTM) mengumumkan bahwa perusahaan akan menerbitkan obligasi berdenominasi Rupiah untuk mendukung pendanaan investasi dan pengembangan usaha, dengan tujuan memaksimalkan nilai pemegang saham.

Antam berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Antam Dengan Tingkat Bunga Tetap dengan target dana yang akan dihimpun sebesar Rp4 triliun. Sebagai bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan tersebut, Antam merencanakan untuk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Antam Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap I Tahun 2011 sebanyak-banyaknya Rp1,5 triliun (“Obligasi Antam”). Obligasi Antam memiliki 2 (dua) seri yaitu seri A berjangka waktu 7 (tujuh) tahun dan seri B berjangka waktu 10 (sepuluh) tahun. Obligasi Antam direncanakan untuk diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Dalam rangka penerbitan obligasi Antam, Direktur Utama Antam, Alwinsyah Lubis mengatakan:

"Sesuai dengan rencana strategis kami untuk berkembang ke arah industri hilir, kami yakin bahwa penerbitan obligasi merupakan opsi pendanaan yang cukup optimal bagi perusahaan saat ini. Rating idAA dari Pefindo atas obligasi Antam juga merefleksikan kekuatan keuangan perusahaan."

Antam merencanakan untuk menggunakan penerimaan hasil Penawaran Umum Berkelanjutan sebesar Rp4 triliun, setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi terkait, untuk sekitar 20% atau Rp800 miliar digunakan untuk Investasi berupa investasi rutin di unit-unit bisnis Perseroan guna menunjang kinerja operasional dan memelihara stabilitas produksi dalam bentuk antara lain pembangunan prasarana dan bangunan dan pembelian mesin dan alat produksi. Sementara sisa 80% atau Rp3,2 triliun digunakan untuk pengembangan usaha dalam rangka (i) pembukaan tambang baru baik untuk mendukung operasi Antam maupun sebagai pasokan bahan baku bagi proyek-proyek pengembangan, (ii) implementasi proyek-proyek pengembangan guna memperkuat bisnis inti, dan (iii) penggunaan dana untuk proyek-proyek pengembangan yang akan ditentukan kemudian. Sasaran dari pengembangan usaha tersebut untuk meningkatkan nilai tambah dari cadangan dan sumber daya mineral/komoditas melalui kegiatan pengolahan sebagai antisipasi atas implementasi Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan dan Mineral dan Batubara (UU Minerba) yang mensyaratkan pengolahan dan pemurnian hasil tambang dilakukan di dalam negeri.

Untuk penerimaan hasil Penawaran Umum Berkelanjutan Tahap I sebanyak-banyaknya sebesar Rp1,5 triliun, Antam merencanakan penggunaannya selaras dengan keseluruhan penggunaan dana obligasi tersebut di atas, dengan rincian antara lain sebanyak-banyaknya sebesar Rp450 miliar atau sampai dengan 30% digunakan untuk investasi berupa investasi rutin di unit-unit bisnis guna menunjang kinerja operasional dan memelihara stabilitas produksi dalam bentuk, antara lain, pembangunan prasarana dan bangunan serta pembelian mesin dan alat produksi, dengan alokasi sebagai berikut: Unit Bisnis Pertambangan Nikel Sulawesi Tenggara sekitar 9%, Unit Bisnis Pertambangan Nikel Maluku Utara sekitar 11% dan Unit Bisnis Pertambangan Emas sekitar 10%. Sementara sisa sebanyak-banyaknya sebesar Rp1,050 triliun atau sampai dengan 70% digunakan untuk pengembangan usaha dengan rincian sebagai berikut: belanja modal untuk renovasi, perbaikan, dan modernisasi pabrik feronikel di Pomalaa untuk mempertahankan stabilitas operasi serta mengoptimalkan dan meningkatkan efisiensi pabrik sebanyak-banyaknya sebesar Rp990 miliar atau sampai dengan 66%; dan sisanya akan digunakan untuk pembukaan tambang nikel di Maluku Utara dan/atau Sulawesi Tenggara dan/atau tambang bauksit di Kalimantan Barat untuk mendukung operasi Perseroan dan pasokan bahan baku Proyek-Proyek Pengembangan.

Obligasi Antam memperoleh peringkat “idAA” dari Pefindo dengan outlook “Stable“. Di dalam rilisnya Pefindo mengemukakan bahwa faktor pendukung peringkat obligasi Antam adalah sumber daya yang berjumlah besar dan berkualitas baik yang dimiliki, operasi yang terintegrasi secara vertikal serta adanya diversifikasi produk yang baik. Sementara faktor risiko utama diantaranya fluktuasi harga nikel dan struktur modal yang agresif dalam jangka menengah untuk mendanai proyek-proyek hilir berbasis pertambangan.

Antam sebagai perusahaan pertambangan terkemuka Indonesia memiliki kekuatan pada cadangan dan sumberdaya dalam jumlah yang signifikan di berbagai lokasi strategis, produk yang berkualitas tinggi dan beraneka ragam, penyebaran geografi konsumen, basis pelanggan yang kuat dan stabil dengan kontrak jangka panjang, mengedepankan keselamatan dan kesehatan kerja serta perhatian pada kelestarian lingkungan hidup dan pengembangan masyarakat.

Antam memiliki pengalaman di dalam implementasi proyek-proyek pengembangan yang bersifat hilir, dengan pembangunan pabrik pengolahan feronikel, FeNi I di tahun 1976, pabrik FeNi II di tahun 1995 dan pabrik FeNi III di tahun 2007. Antam juga berhasil membangun tambang emas bawah tanah Pongkor di Jawa Barat sejak tahun 1994.

Pada sembilan bulan pertama tahun 2011 (9M11), laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Antam melonjak 64% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 (9M10) menjadi Rp1,56 triliun. Laba bersih per saham (Earning Per Share, EPS) tercatat sebesar Rp163,60 pada 9M11 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010 sebesar Rp99,81. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh kenaikan volume penjualan komoditas feronikel dan emas serta peningkatan harga jual. Menyusul peningkatan permintaan komoditas nikel yang mendorong peningkatan volume penjualan, pendapatan tidak diaudit Antam pada 9M11 melonjak 36% dibandingkan 9M10 menjadi Rp7,8 triliun. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari komoditas feronikel dengan kontribusi sebesar 40% atau senilai Rp3,1triliun. Pasar ekspor masih menjadi destinasi utama komoditas Antam dengan 73% produk Antam diekspor senilai Rp5,7 triliun. Dengan nilai kas dan setara kas sebesar Rp2 triliun dan jumlah pinjaman investasi Rp112 miliar, Antam masih memiliki posisi net cash yang kuat untuk mendukung pendanaan proyek-proyek pertumbuhan yang dimiliki.

Obligasi Antam diperkirakan memperoleh pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada tanggal 2 Desember 2011. Masa penawaran awal (bookbuilding) akan dilangsungkan pada tanggal 10-24 November 2011, masa penawaran umum dijadwalkan tanggal 6-9 Desember 2011, dan diharapkan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 15 Desember 2011.

Cetak E-mail
 
Mengapa Berinvestasi di Antam Highlights Keuangan Tahunan Cadangan & Sumber Daya Kinerja Keberlanjutan
Harga Saham
Akhir1330
Ubah10
Buka1320
Tinggi1340
Rendah1320
Jumlah6861
Tanggal20 MAY 2013 19:47:17
Detail
Valuta Asing
Kurs Jual Beli
AUD95559545
EUR1255412541
JPY9595
SGD77817767
USD97649754
Harga Logam Mulia

PT Antam (Persero) Tbk

Harga Logam Dasar

PT Antam (Persero) Tbk