
|
Obligasi Berdenominasi Rupiah Antam Senilai Rp3 Triliun Untuk Pendanaan Investasi Dan Pengembangan Usaha
Home
Rilis, Laporan dan Presentasi Rilis Media |
|
Jakarta, 5 Desember 2011 – PT ANTAM (Persero) Tbk (Antam; ASX - ATM; IDX - ANTM) mengumumkan bahwa perusahaan telah menerima pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM dan LK) guna penerbitan obligasi berdenominasi Rupiah sejumlah Rp3 triliun untuk mendukung pendanaan investasi dan pengembangan usaha. Obligasi perusahaan yang bernama Obligasi Berkelanjutan I Antam Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap I Tahun 2011 berjumlah Rp3 triliun dan akan diterbitkan dalam dua seri, yakni seri A yang memiliki tenor 7 tahun sejumlah Rp900 miliar dengan tingkat bunga 8,375% per tahun dan seri B yang memiliki tenor 10 tahun sejumlah Rp2,1 triliun dengan tingkat bunga 9,05% per tahun. Kupon bunga obligasi Antam akan dibayarkan setiap 3 bulan sekali dan akan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Direktur Utama Antam, Alwinsyah Lubis mengatakan: "Tingkat permintaan yang tinggi atas obligasi Antam menunjukkan keyakinan investor atas kekuatan Antam sebagai perusahaan pertambangan dan pengolahan mineral terkemuka di Indonesia yang memiliki komoditas yang terdiversifikasi. Dukungan pendanaan ini akan lebih memperkuat upaya kami untuk memperkuat bisnis inti dan berkembang ke arah industri hilir." Permintaan yang tinggi atas Obligasi Berkelanjutan I Antam Dengan Tingkat Bunga Tetap Tahap I Tahun 2011 terindikasi dari hasil bookbuilding yang ditutup pada tanggal 24 November 2011, di mana semula Antam hanya mentargetkan Rp1,5 triliun untuk tahap I, mengalami kelebihan permintaan yang signifikan dari para investor, sehingga Antam meningkatkan jumlah penerbitannya 2 kali lipat menjadi Rp3 triliun. Untuk penerimaan hasil Penawaran Umum Berkelanjutan Tahap I sebesar Rp3 triliun tersebut, Antam akan menggunakan sebanyak-banyaknya sebesar Rp674 miliar atau sampai dengan 22,46% untuk investasi berupa investasi rutin di unit-unit bisnis Perseroan guna menunjang kinerja operasional dan memelihara stabilitas produksi dalam bentuk, antara lain pembangunan prasarana dan bangunan serta pembelian mesin dan alat produksi, dengan alokasi sebagai berikut: Unit Bisnis Pertambangan Nikel Sulawesi Tenggara sekitar 5,40%; Unit Bisnis Pertambangan Nikel Maluku Utara sekitar 8,73%; dan Unit Bisnis Pertambangan Emas sekitar 8,33%. Sementara sisanya sebanyak-banyaknya sebesar Rp2,326 triliun atau sampai dengan 77,54% digunakan untuk Pengembangan Usaha dengan rincian sebagai berikut: Belanja modal untuk renovasi, perbaikan, dan modernisasi Pabrik Feronikel di Pomalaa untuk mempertahankan stabilitas operasi serta mengoptimalkan dan meningkatkan efisiensi pabrik sebanyak-banyaknya sebesar Rp2,030 triliun atau sampai dengan 68%; Sisanya akan digunakan untuk pembukaan tambang nikel di Maluku Utara dan/atau Sulawesi Tenggara dan/atau tambang bauksit di Kalimantan Barat untuk mendukung operasi Perseroan dan pasokan bahan baku Proyek-Proyek Pengembangan. Penjamin pelaksana emisi obligasi Antam adalah PT Deutsche Securities Indonesia, PT Mandiri Sekuritas dan PT Standard Chartered Securities Indonesia. Obligasi Antam memperoleh peringkat “idAA” dari Pefindo dengan outlook “Stable“. Di dalam rilisnya Pefindo mengemukakan bahwa faktor pendukung peringkat obligasi Antam adalah sumber daya yang berjumlah besar dan berkualitas baik yang dimiliki Antam, operasi yang terintegrasi secara vertikal serta adanya diversifikasi produk yang baik. Sementara faktor risiko utama diantaranya fluktuasi harga nikel dan struktur modal yang agresif dalam jangka menengah untuk mendanai proyek-proyek hilir berbasis pertambangan. |
|
|
|
|||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||
| Harga Logam Mulia |
|---|
PT Antam (Persero) Tbk |
| Harga Logam Dasar |
|---|
PT Antam (Persero) Tbk |