PT Antam (Persero) Tbk

Laba Bersih Antam Turun 37% Menjadi Rp675 Miliar
Home arrow Rilis, Laporan dan Presentasi arrow Rilis Media

Jakarta, 30 April 2008 – PT Antam Tbk (ASX - ATM; IDX - ANTM) mengumumkan hari ini laba bersih tidak diaudit untuk kuartal pertama tahun 2008 turun 37% menjadi Rp675 miliar dengan Laba Bersih per Saham Dasar (Earnings per Share, EPS) sebesar Rp70,81. Kinerja ini dibandingkan laba bersih sebesar Rp1,073 triliun dan EPS Rp112,52 pada kuartal I 2007.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan penurunan harga jual feronikel dan volume penjualan feronikel sementara tidak terdapat peningkatan volume penjualan bijih nikel maupun kenaikan harga jual bijih nikel. Selain itu, Antam juga membukukan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 20% menyusul kenaikan harga bahan bakar dan biaya umpan bijih. Meski demikian, Antam mencatat sedikit kenaikan produksi feronikel yang merefleksikan kinerja yang baik dari pabrik FeNi III, peningkatan volume penjualan emas dan perak serta kenaikan harga jual emas dan perak. Marjin laba bersih Antam turun menjadi 32% dari 45%.

Direktur Utama Antam, Dedi Aditya Sumanagara mengatakan:

“Meski laba bersih kami tercatat turun di kuartal pertama tahun 2008, hal ini tidaklah di luar perkiraan. Kami merasa senang karena operasi pabrik FeNi III telah cukup stabil saat ini dan produksi feronikel menunjukkan peningkatan tipis. Selain itu, harga bijih nikel tercatat stabil meski harga nikel spot tercatat melemah di kuartal pertama tahun 2008. Segmen emas juga menunjukkan kinerja yang baik dengan adanya pertumbuhan penjualan serta kenaikan harga jual yang signifikan. Kami optimis dapat mencapai target volume produksi tahun ini. Kami saat ini juga tengah berfokus pada proyek pertumbuhan kami selanjutnya”.

Penjualan

Penjualan Antam pada kuartal I 2008 (1Q08) turun 12% menjadi Rp2,092 triliun dari Rp2,386 triliun pada kuartal I 2007 (1Q07) seiring dengan penurunan volume penjualan feronikel serta harga jual. Segmen nikel yang mencakup feronikel dan bijih nikel tetap menjadi segmen terbesar Antam dengan kontribusi 72% disusul segmen emas yang berkontribusi 27%. Kontribusi segmen emas naik dari 7% pada 1Q07 seiring dengan peningkatan penjualan dari kegiatan perdagangan yang dilakukan unit Logam Mulia. Meski kegiatan perdagangan tersebut meningkatkan penjualan, marjin yang dihasilkan tidaklah sebesar peningkatan penjualan. Antam tetap merupakan perusahaan pertambangan yang berorientasi ekspor. Pada 1Q08, pasar ekspor berkontribusi 92% terhadap total penjualan Anta. Seluruh produk nikel diekspor sementara pasar ekspor menyumbang 73% dari penjualan segmen emas.

Feronikel

Pada 1Q08, volume penjualan turun 62% dari 3.345 ton nikel dalam feronikel (TNi) menjadi 1.267 TNi dan menghasilkan pendapatan Rp325 miliar, turun 69% dibandingkan Rp1,063 triliun yang dihasilkan pada kuartal pertama tahun 2007. Penurunan volume penjualan pada kuartal pertama 2008 disebabkan masih adanya pengapalan feronikel yang berada dalam perjalanan ke Eropa sehingga masih dibukukan sebagai persediaan. Total pengapalan feronikel pada kuartal pertama 2008 mencapai 5.975 TNi. Meski demikian, sejumlah 4.708 TNi dikapalkan pada akhir bulan Maret 2008 dan baru akan tiba di tangan pembeli di bulan April 2008. Jadual pengapalan disesuaikan dengan keinginan konsumen. Pada 1Q08 terdapat 1.159 TNi yang telah sampai di tangan pembeli di Korea sementara 108 TNi telah tiba di tangan pembeli di Jepang. Penurunan volume penjualan serta melemahnya harga feronikel sebesar 20% menjadi US$12,69 per pon menjadikan pendapatan dari komoditas ini turun 69% menjadi Rp325 miliar. Meski penjualan hanya mencapai 7% dari target, Antam tetap berharap dapat memenuhi target penjualan feronikel sebesar 17.000 TNi.

Meski volume penjualan feronikel tercatat turun, volume produksi pada 1Q08 tercatat relative sama dibandingkan 1Q07. Volume produksi mencapai 4.362 TNi dibandingkan produksi 1Q07 sebesar 4.352 TNi. Kinerja ini mencapai 26% dari target produksi sebesar 17.000 TNi. Operasi pabrik FeNi III dan FeNi II stabil pada 1Q08 sementara produksi pabrik FeNi I tercatat turun seiring dengan dilakukannya perawatan rutin. Produksi pabrik FeNi I, FeNi II dan FeNi III tercatat masing-masing 752 TNi, 1.758 TNi dan 1.851 TNi. Pencapaian ini dibandingkan produksi pabrik FeNi I, FeNi II dan FeNi III pada 1Q07 yang masing-masing tercatat 1.089 TNi, 1.565 TNi dan 1.697 TNi. Produksi pabrik FeNi II tercatat di atas kapasitas terpasang seiring dengan kadar umpan bijih yang lebih tinggi serta maksimalisasi penggunaan konsentrat dari fasilitas pengolahan terak di tanur.

Untuk memproduksi 4.362 TNi feronikel, Antam menggunakan 18.094 wmt bijih nikel dari tambang Pomalaa dan kepulauan Halmahera serta 276.463 wmt dari deposit Pomalaa Timur milik PT Inco. Antam memiliki perjanjian untuk menggunakan +/- 1 juta wmt umpan bijih dari PT Inco. Antam saat ini tengah berdiskusi dengan PT Inco untuk memperpanjang perjanjian tersebut.

Sebagai bagian dari perawatan rutin pabrik feronikel, Antam melakukan switch off pabrik FeNi I pada tanggal 19 Februari. Pada umumnya Antam melakukan perawatan besar rutin setiap 8-10 tahun sekali. Antam berharap perawatan ini akan dapat diselesaikan pada pertengahan kuartal kedua tahun 2008. Meski dilakukan perawatan rutin pada pabrik FeNi I, Antam berharap untuk dapat memenuhi target produksi tahun 2008 sebesar 17,000 TNi. Antam terakhir kali melakukan perawatan besar berkala pabrik FeNi I pada awal tahun 1999. Pada tahun 2005, Antam menyelesaikan perawatan besar rutin pabrik FeNi II yang termasuk pemasangan sistem copper cooling yang baru. Meski demikian perawatan rutin pabrik FeNi I tidak termasuk instalasi sistem tersebut. Setelah dilakukan perbaikan parsial menyusul kebocoran metal yang terjadi di bulan Juni 2007, operasi pabrik FeNi III tercatat stabil dan Antam berhasil meningkatkan beban di atas 25 megawatts pada akhir bulan Februari. Meski saat ini pabrik berjalan di beban 30-32 MW, Antam dapat menurunkan beban pabrik untuk menjaga kestabilan pabrik. Pabrik FeNi III memiliki kapasitas terpasang lebih besar dari FeNi II, namun kinerja produksi pabrik FeNi III hanya lebih tinggi sedikit dari pabrik FeNi II menyusul rendahnya beban pabrik FeNi III serta adanya output pabrik FeNi II yang berada di atas rata-rata.

Bijih Nikel

Di awal tahun 2008, seiring dengan pemasaran bijih nikel dan tidak terkait dengan klasifikasi cadangan dan sumber daya, Anta melakukan reklasifikasi bijih nikel yang dijual. Sebelumnya, bijih nikel yang disebut low grade saprolite ore (LGSO), dengan kandungan nikel antara 1,5% dan 2%, dimasukkan dalam klasifikasi saprolit. Saat ini LGSO diklasifikasikan sebagai bijih nikel kadar rendah yang juga termasuk bijih nikel limonit yang memiliki kandungan di bawah 1,5%. Sementara bijih nikel dengan kandungan diatas 2% disebut bijih nikel kadar tinggi.

Klasifikasi ini telah merubah target ekspor bijih nikel tahunan. Pada awalnya Antam berencana untuk menjual 5,8 juta wmt saprolit. Namun saat ini Antam menargetkan ekspor bijih nikel kadar tinggi sebesar 3,2 juta wmt dan 2,6 juta bijih nikel kadar rendah yang terbagi atas 2,4 juta wmt LGSO dan 0,2 juta wmt limonit. Target produksi bijih nikel kadar tinggi adalah 3,65 juta wmt yakni jumlah yang akan diekspor ditambah 450.000 wmt sebagai umpan bijih. Target produksi bijih nikel kadar rendah adalah sama dengan target penjualan.

Dikarenakan reklasifikasi dilakukan hanya pada kinerja 2008, figur yang tepat untuk menggambarkan kinerja perusahaan hanyalah total produksi, penjualan, harga dan pendapatan yang menggabungkan bijih nikel. Pada 1Q08, total produksi bijih naik 33% menjadi 2.313.299 wmt dengan total penjualan 2.005.706 wmt. Harga jual rata-rata seluruh bijih nikel Antam yang dijual (free on board atau FOB tercatat sebesar US$63,26 per wmt, sedikit lebih tinggi sedikit dibandingkan harga 1Q07 sebesar US$62,76 per wmt. Total pendapatan dari bijih nikel tercatat naik 6% menjadi Rp1,173 triliun dari Rp1,102 triliun.

Bijih nikel Antam dijual ke Jepang, Eropa Timur dan China, dengan bijih nikel kadar tinggi umumnya dijual ke Jepang dan Eropa Timur sementara kadar rendah dijual ke China. Pada 1Q08, 73% dari bijih nikel kadar tinggi djual ke Jepang sementara sisanya dijual ke Eropa. Harga bijih nikel didasarkan pada harga spot di London Metal Exchange serta kandungan nikel, kelembaban dan juga recovery rate.

Seiring dengan adanya reklasifikasi untuk tahun 2008 (tahun 2007 tidak dilakukan reklasifikasi), dimana Antam tidak memiliki produksi bijih nikel kadar rendah pada kuartal pertama tahun 2007, produksi bijih nikel kadar rendah di 1Q08 tercatat 1.354.770 wmt, yang mencakup 1.211.895 wmt LGSO dan 142.875 wmt limonit. Untuk hal yang sama, produksi bijih nikel kadar tinggi turun 45% menjadi 958.529 wmt pada 1Q08. Pada 1Q08 Antam telah mencapai 52% target bijih nikel kadar rendah tahun 2008 (50% dari target LGSO dan 71% dari target limonit) dan 26% dari target bijih nikel kadar tinggi.

Total penjualan bijih nikel kadar tinggi mencapai 975.693 wmt, turun 51% dibandingkan 1Q07 menyusul dilakukannya reklasifikasi bijih di tahun 2008. Karena hal yang sama, pendapatan dari bijih nikel kadar tinggi turun 40% menjadi Rp720 miliar. Sementara itu, penjualan bijih nikel kadar rendah sebesar 1.030.013 wmt yang mencakup 926.,476 wmt LGSO dan 103.537 limonit, menghasilkan pendapatan sebesar Rp453 miliar. Tidak ada penjualan bijih nikel kadar rendah pada 1Q07. Antam mencapai 29% dari target penjualan bijih nikel kadar tinggi dan 40% dari target penjualan bijih nikel kadar rendah (39% dari target LGSO dan 52% dari target limonit).

Emas dan Perak

Produksi emas Antam naik 21% menjadi 935 kg, atau 31% dari target 2008 sebesar 2.980 kg. Peningkatan produksi disebabkan kenaikan produksi bijih emas serta peningkatan kadar emas. Produksi bijih emas naik menjadi 105.952 wmt dari 99.428 wmt di 1Q07 sementara kadar emas naik menjadi 10,80 grams per ton (gpt) pada 1Q08 atau naik 15% dibandingkan kadar 9,38 gpt pada 1Q07.

Penjualan emas naik 112% in pada 1Q08 menjadi 1.580 kg, atau 26% dari target tahun 2008 sebesar 6.000 kg, seiring dengan masih terus dilakukannya kegiatan perdagangan yang dilakukan Loga Mulia yang dimulai di awal tahun lalu. Kegiatan perdagangan umumnya terkait dengan pembelian scrap gold untuk kemudian diolah kembali menjadi emas batangan murni untuk dijual. Pasar ekspor berkontribusi 75% dari penjualan emas di 1Q08. Emas murni .9999 produksi Logam Mulia terakreditasi internasional. Peninkatan volume penjualan yang didukung kenaikan harga emas sebesar 38% menjadi US$901,57 per troy ounce, menjadikan pendapatan dari emas naik 269% menjadi Rp528 miliar dibandingkan Rp143 miliar pada 1Q07. Meski demikian, biaya material juga meningkat signifikan seiring dengan kenaikan biaya untuk mengolah gold scrap menjadi emas batangan. Pada 1Q08, Logam Mulia membeli 1.109kg emas dibandingkan 56kg pada 1Q07. Marjin yang dihasilkan dari kegiatan perdagangan lebih kecil dibandingkan penjualan emas yang berasal dari bullion dari tambang emas Pongkor.

Penjualan perak naik 40% menjadi 7.289 kg yang didukung kenaikan produksi sebesar 23% menjadi 7.633 kg. Seiring dengan kenaikan volume penjualan serta peningkatan harga jual sebesar 33% menjadi US$17,81 per troy ounce, pendapatan dari perak naik 49% menjadi Rp30 miliar. Pasar ekspor berkontribusi 69% dari total penjualan perak. Penjualan perak di pasar domestik naik 46% menjadi Rp12 miliar sementara ekspor naik tajam 124% menjadi Rp26 miliar.

Pendapatan dari jasa pemurnian turun 15% menjadi Rp6 miliar. Segmen emas yang mencakup emas, perak, dan jasa pemurnian mencatat pendapatan sebesar Rp575 miliar, naik 243% dibandingkan pendapatan sebesar Rp167 miliar pada kuartal pertama tahun 2007.

Bauksit

Meski terjadi peningkatan harga jual bauksit sebesar 24% menjadi US$20,41 per wmt, pendapatan dari komoditas ini turun 70% menjadi Rp14 miliar. Hal ini seiring dengan penurunan permintaan atas bijih bauksit Antam yang berkualitas kurang baik karena memiliki kadar silika tinggi yang masih tersisa di tambang bauksit Kijang. Volume penjualan bauksit turun 76% menjadi 73.866 wmt, atau 5% dari target tahun 2008 sebesar 1,5 juta wmt. Seiring dengan penurunan penjualan, produksi bauksit turun 59% menjadi 181.141 wmt atau 12% dari target produksi tahun 2008 sebesar 1,5 juta wmt.

Beban Pokok Penjualan dan Biaya Produksi

Walaupun pendapatan Antam mengalami penurunan, beban pokok penjualan Antam naik 20% menjadi Rp1,061 triliun terutama disebabkan oleh kenaikan yang cukup besar dalam pemakaian bahan, jasa penambangan bijih, pemakaian bahan bakar, penyusutan dan biaya tenaga kerja. Kelima komponen terbesar dari beban penjualan Antam tersebut berkontribusi atas 86% dari total biaya produksi Antam.

Pemakaian Bahan

Pemakaian bahan, komponen terbesar dari biaya produksi Antam, naik 185% menjadi Rp570 miliar dan merupakan 36% dari total biaya produksi Antam. Penyebab utama kenaikan tersebut adalah kenaikan tajam biaya bahan untuk bisnis pemurnian logam mulia sebesar 2.479% menjadi Rp307 miliar dan merupakan 54% dari total biaya bahan Antam. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kegiatan perdagangan emas dan perak UBPP Logam Mulia. Seiring dengan besarnya permintaan pasar atas emas dan perak murni, UBPP Logam Mulia secara aktif telah banyak melakukan pembelian scrap emas dan perak dari produsen perhiasan untuk dilebur menjadi emas dan perak murni. UBPP Logam Mulia membeli 1.109 kg emas pada kuartal I 2008, suatu kenaikan sebesar 1.880% dibanding pembelian sebesar 56kg pada kuartal I 2007. Persediaan emas dan perak juga meningkat sebesar 150% menjadi Rp238 miliar.

Komponen lainnya yang substansial adalah biaya pemakaian bahan untuk keperluan produksi feronikel yang naik 45% menjadi Rp200 miliar dan berkontribusi 35% atas total biaya pemakaian bahan. Harga umpan bijih menjadi lebih mahal pada kuartal I 2008 berhubung Antam membeli bijih dengan kadar yang lebih tinggi dibandingkan dengan pada kuartal I 2007. Antam mengkonsumsi 294,557 wmt bijih saprolit untuk memproduksi 4.362 Tni dalam feronikel pada kuartal I 2008. Dengan menggunakan kadar umpan bijih yang lebih tinggi tersebut, Antam hanya menggunakan 67,5 ton umpan bijih untuk memproduksi 1 TNi dalam feronikel, suatu rasio yang lebih rendah daripada biasanya. Sekitar 94% dari umpan bijih untuk produksi ferronickel adalah berasal dari tambang PT Inco di Pomalaa Timur. Melalui perjanjian pembelian umpan bijih dari PT Inco tersebut, Antam dapat menghemat cadangan bijih kadar tingginya untuk kebutuhan masa depan, menurunkan biaya jasa penambangan bijih serta menambah kapasitas produksi bijih nikel kadar rendah yang tidak digunakan sendiri oleh Antam untuk memenuhi permintaan bijih nikel saprolit kadar rendah dari China.

Pada kuartal I 2008, Antam tidak melakukan toll smelting untuk produksi feronikel.

Pemakaian bahan lainnya yang penting adalah bahan-bahan pembantu seperti batubara dan antrasit yang digunakan sebagai reduktor di tanur. Walaupun konsumsi batubara turun 5% menjadi 25,694 ton, harga batubara naik 59% menjadi Rp830.000 per ton yang menyebabkan peningkatan biaya bahan batubara sebesar 20% menjadi Rp17 miliar. Konsumsi Antrasit naik 31% menjadi 3,191 ton sedangkan harga antrasit tetap Rp1,26 juta per ton dan dengan demikian biaya bahan antrasit naik 31% menjadi Rp4 miliar.

Jasa Penambangan Bijih

Antam melakukan outsourcing untuk sebagian besar kegiatan penambangannya seiring dengan rencana Antam untuk bergerak ke bidang hilir dan juga untuk menghemat biaya overhead, biaya tenaga kerja serta kewajiban-kewajiban paska kerja. Antam mengkategorikan penambangan bijih untuk keperluan ekspor sebagai jasa penambangan bijih sedangkan penambangan untuk umpan bijih produksi feronikel sebagai pemakaian bahan, walaupun kedua-duanya sebagian besar dilakukan oleh para kontraktor tambang pihak ketiga.

Biaya jasa penambangan bijih naik 84% menjadi Rp349 miliar pada kuartal I tahun 2008 terutama dikarenakan kenaikan produksi bijih nikel sebesar 33% dan kenaikan volume penjualan bijih nikel sebesar 6% serta kenaikan biaya-biaya operasi, seperti bahan bakar, yang dibebankan kepada Antam oleh kontraktor tambang. Biaya jasa penambangan bijih merupakan komponen kedua terbesar dan menyumbang 22% dari total biaya produksi Antam. Jasa penambangan bijih nikel sebesar Rp338 miliar adalah komponen terbesar dan merupakan 97% dari dari total biaya jasa penambangan bijih. Biaya penambangan bijih bauksit sebesar Rp10 miliar merupakan 3% dari biaya jasa penambangan bijih sedangkan biaya penambangan bijih emas sebesar Rp1 miliar merupakan 0,3% dari keseluruhan biaya penambangan bijih.

Bahan Bakar

Biaya bahan bakar, komponen ketiga terbesar dan merupakan 13% dari biaya produksi Antam, naik 60% menjadi Rp208 miliar. Hal ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak dunia. Harga Marine Fuel Oil (MFO) naik 77% menjadi Rp4.708 per liter sedangkan harga Industrial Diesel Oil (IDO) naik sekitar 40% menjadi Rp6.625 per liter. Sekitar 98% dari kebutuhan bahan bakar Antam berasal dari fasilitas smelter feronikel Antam di Pomalaa berhubung produksi feronikel membutuhkan energi yang sangat besar. Pada kuartal I 2008 Antam menggunakan sekitar 37,4 juta liter bahan bakar, dimana 91% diantaranya berupa MFO yang lebih murah dan 9% berupa IDO yang lebih mahal. Walaupun MFO lebih murah dibandingkan dengan IDO, MFO masih tetap merupakan bahan bakar yang terlalu mahal sebagaimana ditunjukkan oleh biaya tunai produksi feronikel Antam yang masih diatas rata-rata industri. Antam berencana untuk menurunkan biaya bahan bakarnya dengan melakukan konversi ke bahan bakar alterntif yang lebih murah seperti gas, tenaga air atau batu bara.

Depresiasi

Depresiasi merupakan komponen keempat terbesar dan berkontribusi 8% atas total biaya produksi. Depresiasi naik 37% menjadi Rp128 miliar terutama disebabkan oleh depresiasi FeNi III yang memulai operasi komersialnya di awal tahun 2007. Sekitar 80% dari depresiasi Antam berasal dari depresiasi fasilitas pabrik feronikel di Pomalaa. Sementara itu depresiasi di fasilitas tambang emas di Pongkor berkontribusi sekitar 19,5% dari total biaya depresiasi.

Biaya Tenaga Kerja

Biaya tenaga kerja, yang meliputi gaji, bonus dan tunjangan karyawan, merupakan komponen kelima terbesar dari biaya produksi dan naik 18% menjadi Rp122 miliar dan merupakan 8% dari total biaya produksi. Komponen-komponen terbesar dari biaya tenaga kerja antara lain adalah tunjangan kinerja tahunan sebesar Rp24 miliar, kesehatan pensiun Rp15 miliar dan tunjangan unit bisnis sebesar Rp12 miliar. UBP Nikel di Pomalaa merupakan kontributor terbesar yaitu 63% atas total biaya tenaga kerja. Kontributor terbesar kedua dan ketiga adalah UBP Emas Pongkor dan UBP Bauksit Kijang yang masing-masing berkontribusi 22% dan 8% atas total biaya tenaga kerja.

Biaya Transportasi

Walaupun bukan termasuk dalam lima besar biaya produksi, biaya transportasi yang meliputi biaya-biaya yang terkait dengan pengiriman bijih, pemuatan bijih, mobilisasi peralatan serta logistik pemuatan dan pembongkaran adalah komponen yang penting dari biaya produksi. Meskipun ada kenaikan harga bahan bakar serta kenaikan tipis dalam volume ekspor, biaya transportasi mengalami penurunan sebesar 38% menjadi Rp21 miliar terutama disebabkan oleh kegiatan logistik pemuatan yang lebih rendah. Pada kuartal pertama tahun 2007 biaya pemuatan bijih adalah Rp18 miliar dan merupakan 53% dari total biaya transportasi. Sedangkan pada kuartal pertama tahun 2008, biaya pemuatan bijih hanya sekitar Rp6 miliar dan merupakan 28% dari biaya transportasi.

Laba Kotor

Laba kotor Antam turun 31% menjadi Rp1.031 miliar disebabkan oleh turunnya pendapatan dan naiknya beban pokok penjualan. Oleh karena itu marjin laba kotor Antam turun 22% menjadi 49% pada kuartal pertama tahun 2008 dari 63% pada kuartal pertama tahun 2007.

Beban dan Laba Usaha

Beban usaha Antam naik 23% menjadi Rp94 miliar terutama disebabkan oleh kenaikan beban umum dan administrasi sebesar 39% menjadi Rp74 miliar. Komponen terbesar dari beban umum dan operasi adalah gaji dan tunjangan tenaga kerja lainnya yang naik 52% menjadi Rp36 miliar dan merupakan 49% dari keseluruhan beban umum dan administrasi. Beban lain-lain, komponen kedua terbesar dari beban umum dan administrasi, naik 63% menjadi Rp16 miliar pada kuartal I tahun 2008.

Beban eksplorasi dan beban kegiatan pemasaran kantor cabang Tokyo, komponen-komponen penting lainnya dari beban umum dan administrasi, masing-masing turun 10% menjadi Rp19 miliar dan 44% menjadi Rp1,6 miliar.

Laba usaha Antam turun 34% menjadi Rp937 miliar. Dengan demikian marjin laba usaha turun menjadi 45% di kuartal I tahun 2008 dari 60% di kuartal pertama tahun 2007.

Penghasilan Lain-lain dan Laba Bersih

Pada kuartal I 2008, antam membukukan penghasilan lain-lain sebesar Rp10 miliar, suatu penurunan sebesar 91% dari Rp108 miliar di kuartal pertama tahun 2007. Hal ini terutama disebabkan oleh kerugian selisih kurs sebesar Rp108 miliar di kuartal 1 2008 seiring dengan pelemahan mata uang US Dollar. Sedangkan di kuartal 1 2007, Antam membukukan laba selisih kurs sebesar Rp17 miliar. Antam juga membukukan lebih sedikit penghasilan lain-lain yang tidak rutin sebesar Rp84 miliar pada kuartal I 2008 dibandingkan Rp98 miliar di kuartal 1 2007. Kenaikan penghasilan bunga sebesar 249% menjadi Rp49 miliar yang disebabkan oleh kenaikan tingkat suku bunga serta besarnya nilai deposito berjangka Antam dalam US Dollar sebesar Rp3,646 triliun dan juga penurunan beban bunga sebesar 34% menjadi Rp15 miliar sehubungan dengan menurunnya jumlah hutang investasi Antam, tidak dapat mengimbangi penurunan penghasilan lain-lain.

Laba sebelum pajak penghasilan turun 38% menjadi Rp947 miliar dan setelah dikurangi oleh beban pajak penghasilan sebesar 30%, laba bersih Antam turun sebesar 37% menjadi Rp675 miliar. Hal tersebut menyebabkan marjin laba bersih Antam turun 29% menjadi 32% di kuartal pertama tahun 2008 dari 45% di kuartal pertama tahun 2007. Biaya Tunai dan Program Penghematan Biaya

Seperti perusahaan-perusahaan tambang dan pengolahan logam lainnya, Antam mengalami kenaikan biaya tunai untuk produk-produknya dikarenakan antara lain oleh naiknya biaya pemakaian bahan, biaya tenaga kerja dan biaya bahan bakar. Biaya tunai provisional feronikel naik 37% menjadi US$6,17 per pon terutama disebabkan kenaikan harga bahan bakar dan harga umpan bijih sedangkan biaya tunai emas provisional naik 6% menjadi US$283,09 per troy ounce terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bakar.

Antam telah mengambil berbagai langkah untuk menurunkan biaya-biaya produksi dan operasinya seperti melalui pengunaan suku cadang dan peralatan berkualitas tinggi namun dengan harga yang lebih murah, serta secara kontinyu memberikan pelatihan kepada para karyawan dan secara selektif menurunkan jumlah tenaga kerja untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi. Antam juga telah menandatangani perjanjian pembelian tenaga listrik dengan sebuah perusahaan listrik tenaga air milik swasta untuk pemasokan tenaga listrik dengan beban puncak sebesar 15MW (kira-kira sekitar 15% dari total kebutuhan energi perusahaan). Pemasokan listrik tersebut akan dimulai pada tahun 2009 dengan harga yang cukup kompetitif sebesar US$0,0565 per KWh. Namun, keputusan yang paling penting berkenaan dengan program penghematan biaya adalah ketika Antam melakukan konversi sumber utama energinya dari bahan bakar diesel yang lebih mahal ke sumber energi yang lebih murah seperti batubara, hydropower atau gas. Saat ini, batu bara merupakan alternatif yang terlihat paling layak untuk menjadi sumber energi yang lebih murah bagi fasilitas smelter feronikel Antam. Antam saat ini sedang melakukan suatu kajian mengenai Smart Predictive Line Controller (SPLC) yang akan memungkinkan penggunaan batubara untuk pabrik feronikel yang membutuhkan tingkat energi yang sangat tinggi.

Neraca Konsolidasian

Struktur keuangan Antam membaik seiring dengan posisi kas dan setara kas meningkat lebih dari dua kali lipat sementara total pinjaman dan kewajiban pensiun serta imbalan pasca-kerja lainnya mengalami penurunan walaupun hutang usaha mengalami sedikit peningkatan. Posisi pinjaman yang lebih rendah disertai dengan peningkatan signifikan dari ekuitas menurunkan rasio pinjaman jangka panjang terhadap ekuitas (pada akhir periode) menjadi 7%. Posisi neraca Antam berada pada posisi yang baik untuk leverage serta mendukung investasi pertumbuhan.

Total Aktiva

Total aktiva Antam meningkat Rp3,826 triliun atau 47% menjadi Rp12,004 triliun. Peningkatan tersebut dipicu oleh kenaikan sebesar 124% pada kas dan setara kas. Total aktiva juga mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan 870% pada investasi dalam perusahaan Kontrak Karya meskipun terdapat penurunan 10% pada aktiva tetap.

Aktiva Lancar

Aktiva lancar Antam tercatat meningkat 80% menjadi Rp7,593 triliun seiring dengan peningkatan kas. Kas dan setara kas meningkat menjadi Rp4,568 triliun disebabkan oleh peningkatan produksi dan kenaikan harga pada tahun 2007. Apabila dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2007, posisi kas Antam turun 4% seiring dengan pembayaran pajak penghasilan, investasi jangka panjang dan pengaruh selisih kurs. 80% dari total kas Antam disimpan pada rekening deposito berdenominasi US$ dan 18% pada rekening giro US$ yang tersebar pada empat belas bank domestik dan asing. Rentang suku bunga tahunan untuk deposito Rupiah meningkat menjadi 7,25% - 9,25%, sementara untuk US$ rentang suku bunga tahunan meningkat menjadi 4% - 5,5%.

Piutang usaha – pihak ketiga tercatat sebesar Rp830 miliar setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp1,3 miliar. Dari sejumlah itu, 36% merupakan piutang lancar sementara 37% berupa piutang yang akan jatuh tempo dalam kurun waktu 31 – 90 hari. Empat komponen piutang usaha terbesar mencakup 69% dari total piutang yakni Avarus AG yang merupakan agen penjualan feronikel Antam di Eropa, Raznoimport Nickel (UK) Ltd, Zhejiang Grand IMP dan Mitsui & Co, Ltd.

Total persediaan Antam meningkat 76% menjadi Rp1,845 triliun seiring dengan adanya pengapalan in-transit untuk feronikel sebesar Rp700 miliar. Antam tidak memiliki persediaan in-transit pada kuartal pertama 2007. Persediaan juga meningkat disebabkan oleh peningkatan persediaan emas dan perak sebesar 153% menjadi Rp238 miliar yang berasal dari aktivitas perdagangan oleh Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Persediaan bijih nikel meningkat 111% menjadi Rp186 miliar sementara persediaan feronikel mengalami penurunan 48% menjadi Rp158 miliar.

Aktiva Tidak Lancar

Aktiva tidak lancar tercatat meningkat 11% menjadi Rp4,411 triliun. Peningkatan tersebut disebabkan oleh kenaikan pada investasi di perusahaan Kontrak Karya hampir sepuluh kali lipat menjadi Rp485 miliar dibandingkan Rp50 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu. Pos ini termasuk investasi pada PT Nusa Halmahera Minerals, yakni perusahaan patungan antara Antam dan Newcrest Ltd, PT Cibaliung Sumberdaya, yakni perusahaan patungan untuk komoditi emas dengan Austindo serta PT Indonesia Chemical Alumina. Pada kuartal pertama tahun 2008, Antam membelanjakan Rp430 miliar untuk pengambilalihan kepemilikan sebesar 10,72% pada Herald Resources, Ltd, sebuah perusahaan eksplorasi dan pengembangan mineral di Australia dimana di Indonesia bersama dengan Antam mempunyai usaha patungan PT Dairi Prima Mineral yang bergerak pada komoditas timbal dan seng.

Aktiva tidak lancar juga meningkat seiring dengan peningkatan 38% pada biaya eksplorasi dan pengembangan tangguhan menjadi Rp527 miliar serta peningkatan 61% pada aktiva pajak tangguhan menjadi Rp330 miliar. Peningkatan ini dapat mengantisipasi penurunan 10% pada aktiva tetap menjadi Rp2,935 triliun.

Total Kewajiban

Total kewajiban Antam mengalami penurunan sebesar 9% menjadi Rp2,561 triliun seiring dengan penurunan pada hutang pajak, total pinjaman dan kewajiban pensiun serta imbalan pasca-kerja lainnya meskipun hutang lain-lain dan biaya masih harus dibayar mengalami peningkatan.

Kewajiban Lancar

Kewajiban lancar Antam tercatat mengalami penurunan sebesar 5% menjadi Rp1,090 triliun seiring dengan penurunan hutang pajak sebesar 65% menjadi Rp146 miliar. Peningkatan pada kewajiban lancar tidak dapat mengantisipasi kenaikan pada hutang pajak. Hutang lain-lain meningkat 576% menjadi Rp115 miliar seiring dengan penerimaan uang muka dari pelanggan sebesar Rp48 miliar. Biaya yang masih harus dibayar meningkat 23% menjadi Rp494 miliar sebagian besar disebabkan oleh pembelian bijih nikel dari PT Inco serta biaya jasa pertambangan dan transportasi. Hutang usaha Antam meningkat 10% menjadi Rp96 miliar dengan jumlah terbesar dari PT Yudhistira Bumi Bhakti, salah satu perusahaan jasa penambangan Antam. Bagian pinjaman investasi jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun berada pada posisi Rp215 miliar.

Kewajiban Tidak Lancar

Total kewajiban tidak lancar mengalami penurunan 12% menjadi Rp1,471 triliun. Penurunan tersebut didorong oleh penurunan sebesar 23% pada pinjaman jangka panjang setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun. Antam memiliki dua fasilitas pinjaman yang sudah ditarik yakni PT Bank Central Asia dengan saldo setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar Rp408 miliar sementara PT Bank Mandiri sebesar Rp277 miliar. Kedua fasilitas pinjaman tersebut memiliki suku bunga sebesar 6,89%.

Kewajiban pensiun dan imbalan pasca-kerja lainnya mengalami penurunan 7% menjadi Rp655 miliar. Nilai wajar dari aktiva program pensiun meningkat lebih besar dibandingkan dengan nilai kini kewajiban yang didanai sehingga kewajiban untuk imbalan pensiun mengalami penurunan menjadi Rp42 miliar. Trend tersebut juga sama dengan imbalan kesehatan pasca kerja dimana nilai wajar dari aktva program meningkat 133% sementara nilai kini kewajiban yang didanai mengalami penurunan 16% menjadi Rp909 miliar. Untuk imbalan pasca kerja lainnya seperti imbalan purna jasa, pesangon dan kompensasi atas akumulasi cuti yang tidak digunakan meningkat 22% menjadi Rp152 miliar.

Ekuitas

Total ekuitas konsolidasian meningkat 76% menjadi Rp9,441 triliun seiring dengan peningkatan saldo laba sebesar 93% menjadi Rp8,461 triliun. Jumlah ini lebih besar 9% dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2007 sebesar Rp7,785 triliun. Antam telah menentukan pengunaan saldo laba sebesar Rp2,653 triliun pada periode akhir 2007. Peningkatan signifikan dari saldo laba disebabkan oleh laba bersih tahun 2007 yang meningkat seiring dengan peningkatan produksi dan harga komoditas.

Arus Kas Konsolidasian

Walaupun terdapat penurunan harga jual rata-rata untuk feronikel serta adanya penurunan volume penjualan feronikel dan bauksit diikuti dengan volume penjualan bijih nikel dan harga jual rata-rata bijih nikel yang tetap, Antam dapat meningkatkan penerimaan kas dari pelanggan pada kuartal pertama 2008. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan volume dan harga jual rata-rata emas dan perak. Meskipun terdapat peningkatan signifikan pada pembayaran pajak penghasilan yang menyebabkan kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mengalami penurunan, Antam tetap memiliki posisi arus kas bebas yang positif. Dengan belanja modal sebesar Rp49 miliar, Antam menghasilkan arus kas bebas sebesar Rp375 miliar.

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mengalami penurunan 65% atau sebesar Rp775 miliar menjadi Rp424 miliar. Alasan utama penurunan ini adalah adanya pembayaran pajak yang naik 114% menjadi Rp1,033 triliun terkait dengan kenaikan laba bersih tahun 2007 sebesar 230%. Antam membayar Pajak Penghasilan dengan tarif 30%. Antam melakukan pembayaran dimuka untuk pajak penghasilan tiap bulan berdasarkan perkiraan laba tahunan. Pada kuartal pertama 2008, seiring dengan laba sebelum pajak penghasilan melebihi perkiraan maka Antam diharuskan untuk melakukan pembayaran pajak untuk merekonsiliasi perbedaan tersebut.

Penerimaan dari pelanggan bergerak berlawanan dengan penjualan bersih dimana mencatat kenaikan 20% atau Rp481 miliar menjadi Rp2,941 triliun seiring dengan pembayaran pada piutang usaha. Pembayaran kepada pemasok mengalami peningkatan 112% menjadi Rp1,471 triliun seiring dengan kenaikan pembelian oleh Logam Mulia sebesar Rp300 miliar untuk aktivitas perdagangan dan juga akibat kenaikan harga untuk umpan bijih serta BBM. Oleh sebab itu kas bersih dari aktivitas operasi mengalami penurunan 14% menjadi Rp1,422 triliun. Pembayaran kepada komisaris, direktur dan karyawan berada pada posisi Rp138 miliar. Penerimaan lain-lain meningkat 411% menjadi Rp91 miliar seiring dengan penerimaan uang muka dari pelanggan.

Arus Kas dari Aktivitas Investasi

Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi meningkat Rp439 miliar atau sebesar 664% menjadi Rp505 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan 311% atau sebesar Rp420 miliar pada investasi jangka panjang menjadi Rp434 miliar. Investasi tersebut adalah kepemilikan sebesar 10,72% pada Herald Resources Ltd (ASX: HER), perusahaan pertambangan dan eksplorasi Australia. Pada proyek seng dan timbal di Sumatera yang akan dikembangkan oleh perusahaan patungan PT Dairi Prima Mineral, Antam memiliki saham sebesar 20% sementara Herald 80%. Bersama dengan mitra China yakni Shenzhen Zhongjin Lingnan Nonfemet Co. Ltd, Antam melakukan penawaran bersama untuk pengambilalihan Herald sebesar A$2,50 per saham. Antam berharap untuk mendapatkan kepemilikan mayoritas dari PT Dairi Prima Mineral dan bersama Zhongjin sebagai operator untuk memaksimalkan nilai. Saat ini Antam dalam proses penawaran pengambilalihan tersebut.

Antam juga membelanjakan Rp63 miliar pada biaya eksplorasi dan pengembangan dengan peningkatan sebesar 117% atau Rp34 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Antam meningkatkan perolehan aktiva tetap sebesar 40% menjadi Rp49 miliar, sebgian besar untuk pengembangan lahan dengan Rp20 miliar berasal dari Pongkor dan Rp18 miliar berasal dari Pomalaa.

Penerimaan dividen Antam sedikit meningkat menjadi Rp42 miliar yang berasal dari PT Nusa Halmahera Minerals, perusahaan patungan untuk komoditas emas antara Antam dan Newcrest Ltd.

Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan

Antam tidak menghasilkan arus kas dari aktivitas pendanaan pada kuartal pertama 2008. Sementara untuk kuartal yang sama tahun lalu Antam melakukan pembayaran kembali hutang jangka panjang sebesar Rp247 miliar.

Cetak E-mail
 
Mengapa Berinvestasi di Antam Highlights Keuangan Tahunan Cadangan & Sumber Daya Kinerja Keberlanjutan
Harga Saham
Akhir1330
Ubah10
Buka1320
Tinggi1340
Rendah1320
Jumlah6861
Tanggal21 MAY 2013 00:02:59
Detail
Valuta Asing
Kurs Jual Beli
AUD95839571
EUR1257112557
JPY9595
SGD77857771
USD97649754
Harga Logam Mulia

PT Antam (Persero) Tbk

Harga Logam Dasar

PT Antam (Persero) Tbk